aku sedang duduk di bawah terik matahari beralaskan pasir , bersama teman yang bernamakan catatan awan
ya aku suka menulis aku suka membaca kecuali buku yang memeberatkan haha
aku jatuh cinta pada laut, pada sang jingga yang merekah indah,
tapi sebelum ini semua , sebelum aku jatuh cinta pada semesta dan hamparan laut nya
aku pernah jatuh cinta pada dia yang sekarang entah.
AWAN
dia awan laki laki yang aku puja sama kasta nya dengan dewa, aku layung pencinta awan dari kejauhan , awan senyum nya manis , tinggi tapi kurang gemuk, pintar dalam hal menghitung bodoh dalam jenis prensentasi jenis apapun, dia pendiam tapi tak benar benar diam,
pernah suatau sore saat semua riuh karna obrolan gila dia berkata "hai boleh titip handphone?" waw dalam hati aku memekik girang pipiku rasanya kepanasan , ah padahal hanya kalimat biasa
"hah iya boleh mana" ku ulurkan tangan ku dan ku simpan handpone nya, entah apa alasanya menitipkan barang nya pada ku tapi masa bodo dah, dia berlalu memasuki ruangan sekretariat, ah mungkin karna akan masuk ruangan karna itu dia titipakn handphone nya pada ku , sungguh berlebihan sekali,
aku hanya diam sembari ku bulak balikan buku yang tak fokus ku baca " dia lama " aku mengeluh sedikit bersamaan dengan helaan nafas panjang tiba tiba dia sudah ada di hadapan ku, menjulurkan tangan nya dengan amat santai pertanda meminta barang yang telat titipkan , replek langsung saja aku berikan "nih" , thanks yah layung sorry lama di dalem ribet banget maklum anak kurang pintar hehe , dia tertawa renyah ah tuhan dia juga tau nama ku , setelah bebrapa lama berbasa basi dia pamit dan aku pun pulang .
hai pungung yang sudah sejak lama ku hapal
gerak gerik yang sudah lama juga aku perhatikan
kian lama kian mengoda saja dirimu
rasa memendam ku semakin mengila
aku ini suka atau sudah mulai cinta?
beri tahu aku awan bagiamana caranya
hati mu yang dingin itu bisa ku dekap dengan hangat
ah selsai , setelah sore tadi aku berbincang dengan nya tiba tiba saja jemari ku ingin menulis lagi dan lagi untuk awan.
aku tak pernah tahu seperti apa awan sebernarnya , seperti apa hidup yang dia jalani, aku tak pernah benar benar tahu dimana tempat dia tinggal, tapi karna ketidaktahuan ku yang amat banyak ini , aku menyukainya entah sejak kapan tepat nya mungkin saat pertemuan di siang yang terik
saat dia diam dengan mata sendu duduk di atas atap kampus dari kejauhan ku lihat punggung nya, loyo rasa rasanya ada beban tapi aku tidak tahu apaitu, aku ingin sekali menghampiri berbicara bahwa aku siap jadi pendengar yang baik untuk nya , sayang kami belum cukup dekat saat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar